Tidak Semua yang Kita Inginkan Harus Dikabulkan
Waktu kecil dulu, saya pernah punya satu keinginan yang rasanya besar sekali: ingin punya PlayStation.
Table Of Content
Di masa itu, punya PS bukan hal biasa bagi keluarga saya. Itu termasuk barang mewah. Teman-teman yang punya rasanya keren sekali. Sepulang sekolah mereka bisa main game bola, game balap, atau game petualangan yang bagi saya waktu itu terlihat luar biasa.
Saya juga ingin.
Tapi keinginan itu tidak pernah benar-benar terwujud.
Orang Tua yang Punya Prioritas Berbeda
Orang tua saya termasuk tipe yang sangat mengutamakan pendidikan. Kalau soal les matematika, les bahasa Inggris, atau les renang, mereka hampir tidak pernah menolak. Selama itu untuk belajar, untuk berkembang, untuk masa depan, mereka akan usahakan.
Tapi kalau soal game, jawabannya hampir selalu sama: tidak.
Dulu mungkin saya sempat merasa tidak adil. Kenapa teman bisa punya, tapi saya tidak? Kenapa untuk hal yang saya inginkan justru tidak dikabulkan?
Sebagai anak kecil, logikanya sederhana. Saya ingin main. Saya ingin punya. Saya ingin seperti yang lain.
Namun orang tua saya melihatnya dari sudut yang berbeda.
PS yang Tidak Pernah Datang
Saya tidak pernah benar-benar punya PlayStation. Sampai remaja, sampai dewasa, keinginan itu seperti tertinggal begitu saja.
Alih-alih punya PS, memori masa kecil saya justru diisi dengan bermain game di PC. Salah satu yang paling saya ingat adalah NASCAR Rumble. Game balap yang seru, penuh warna, dan cukup membuat saya betah berjam-jam di depan layar komputer.
Yang membuatnya lebih berkesan, saya tidak selalu bermain sendirian.
Saya pernah memainkannya bersama ayah. Kadang juga bersama ibu. Kami duduk berdampingan di depan PC, tertawa ketika mobil saling bertabrakan, saling menyalahkan dengan nada bercanda saat kalah balapan. Bukan sekadar main game, tapi ada momen kebersamaan di situ.
Sesekali, teman-teman sebaya di perumahan tempat saya tinggal juga ikut bermain. Kami bergantian, kadang berisik sendiri, kadang terlalu serius ingin menang. Ruang kecil di depan komputer itu berubah jadi arena balapan kecil versi kami.
Saya memang tidak punya PS. Tapi saya punya momen itu.
Dan kalau dipikir sekarang, mungkin justru itu yang lebih mahal.
Dulu Kecewa, Sekarang Mengerti
Kalau mengingat lagi, mungkin dulu ada rasa kecewa kecil. Rasa ingin yang tidak terpenuhi. Rasa iri yang sesekali muncul.
Tapi sekarang, ketika melihat ke belakang, saya justru mengerti.
Orang tua saya bukan tidak mau membahagiakan saya. Mereka hanya memilih untuk memprioritaskan hal-hal yang menurut mereka lebih penting. Mereka rela mengeluarkan biaya untuk les, untuk pendidikan, untuk hal-hal yang membentuk masa depan saya.
Mereka mungkin tahu bahwa tidak semua keinginan anak harus langsung dipenuhi.
Karena kalau semua dikabulkan, kita tidak pernah belajar menahan diri.
Tidak Semua yang Kita Mau Itu Kita Butuhkan
Semakin dewasa, saya semakin sadar bahwa hidup memang tidak selalu tentang mendapatkan apa yang kita inginkan.
Ada hal-hal yang tidak kita miliki, tapi justru membentuk kita.
Kalau dulu saya punya PS, mungkin waktu saya akan lebih banyak habis untuk bermain. Mungkin juga tidak. Kita tidak pernah benar-benar tahu.
Tapi yang jelas, ketiadaan itu mengajarkan sesuatu. Mengajarkan bahwa keinginan tidak selalu harus berakhir dengan kepemilikan.
Dan yang lebih penting, kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dari barangnya. Kadang datang dari siapa yang ada di samping kita saat menjalaninya.
Tentang Waktu dan Kesiapan
Sampai sekarang pun saya belum benar-benar punya PlayStation. Bukan karena tidak mampu. Mungkin lebih karena sudah tidak lagi menjadi kebutuhan.
Keinginan itu pernah sangat besar. Tapi waktu berjalan, prioritas berubah.
Saya jadi bertanya dalam hati: apakah dulu saya benar-benar membutuhkannya, atau hanya sekadar ingin?
Mungkin memang belum saatnya waktu itu. Atau mungkin memang itu bukan hal yang terbaik untuk saya di fase tersebut.
Tidak semua yang kita inginkan harus dikabulkan. Tidak semua yang kita kejar harus kita miliki.
Kilas Balik yang Mengajarkan
Kalau mengingat masa kecil itu sekarang, rasanya bukan lagi tentang PS yang tidak terbeli. Tapi tentang pelajaran yang tanpa sadar saya dapatkan.
Tentang orang tua yang memilih pendidikan daripada hiburan.
Tentang keinginan yang harus ditahan.
Tentang momen sederhana bermain bersama ayah dan ibu di depan komputer.
Tentang tawa kecil bersama teman-teman perumahan.
Mungkin PlayStation itu tidak pernah datang.
Tapi kebersamaan itu pernah ada.
Dan mungkin, itu jauh lebih berharga daripada sekadar memiliki apa yang dulu sangat saya inginkan.





-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Show CommentsAku pernah merasa kecewa banget saat sesuatu yang diinginkan nggak terjadi. Tapi setelah waktu berjalan, ternyata memang ada alasan kenapa itu tidak dikabulkan. Kadang yang terlihat seperti penolakan justru bentuk perlindungan.
betul sekali kak. kita harus melihat dari sudut pandang lain dulu.
bisa jadi apa yang kita mau belum tentu baik untuk kita
Sering sekali mendengar kisah seperti ini, dan hasilnya sekarang banyak orang dewasa yang memenuhi inner child nya dengan membeli barang yang sangat diinginkan waktu kecil, seperti PS, koleksi mobil2an, dan lainnya.
Sampai sekarang saya masih punya wishlist buat beli mobil mainan pakai remot kak hahaha
Bener sekali kak. Kadang smkn kita taat, malah hidupnya mkn susah. Kita lbh mementingkan urusan duniawi yqang lgsg pny imbalannya.
Ada ustad ceramah, coba kalo kita selesai sholat, terutama sholat shubuh lgsg dikasih duit 100k di bawah sajadah. Itu sama kyk org doa, lgsg dikabulin.
Tapi ada juga yg rajin sholat dan ibadah lainnya, hidup tuh mkn berantakan dan miskin. Tp yakinlah, Allah maha tau. Dgn sering ibadah, kita akan dijanjikan surga dgn segala kemewahannya. Artinya, ganjaran utk ibadah kpd Tuhan tuh dikasih nanti. Mknya org lbh banyak menunda utk ibadah dibanding tratir temen di kedai pinggir jalan.
Lalu mana yg kalian piih? Ada plus minusnya sih.
Setuju, pernah ada di titik dimana sudah berusaha maksimal namun kalah dengan orang yang terlihat gak ada usaha sama sekali. tp harus selalu di syukuri dengan apa yang diraih
Sampai kapanpun, aku akan selalu ingat bahwa apa yang aku mau nggak selalu harus tersedia. Aku juga masa kecilnya gitu. Ada beberapa ingatan kalau nggak semua ppermintaanku akan dikabulkan oleh orang tuaku. Ada yang memang menunggu sampai uangnya cukup. Ada yang memang nggak dibelikan sama sekali karena memang bukan prioritas
tidak dibelikan apa yang kita inginkan ini kadang menyedihkan sih. tp saya gatau kalau saya jadi orang tua apakah bakal jadi tipikal yang akan membelikan sesuatu untuk anak atau tidak… hehe
Setuju dengan pernyataan bahwa tidak semua yang diinginkan itu kita butuhkan. Saya percaya bila satu hal yang benar-benar kita butuhkan itu akan datang dengan sendiri. Kadang ada alasan bila keinginan itu tak harus diwujudkan, seperti orangtuanya mas, saya pikir mereka sudah bijak soal mana yang prioritas dan gak.
kita harus selalu berpikir positif, meskipun kadang melukai hati
Relate se-relate relate nyaaa. Saat kecil aku selalu memimpikan rumah barbie, betapa besar aku menginginkannya, aku tidak pernah mendapatkannya. Awalnya aku pikir karena orang tuaku tidak sayang padaku, tapi sekarang aku paham kalau sebetulnya mereka sangat ingin menuruti segala permintaanku. Sayangnya kita tidak datang dari keluarga ber-privilage, dan sangat banyak hal penting yang mereka perjuangkan untukku, daripada cuma rumah barbie.
Setuju.
Ada banyak hal yg diinginkan oleh anak, tapi kalau itu tidak dibutuhkan, maka dahulukan yg dibutuhkan
Aku dulu kayanya jarang minta-minta ke ortu karena sering gak dapat kali ya. Jadi kaya mendam aja. Terus sekarang sama Keponakan ngajarin bahwa gak semua hal yang diinginkan memang harus dikabulkan. Ada waktu untuk kecewa juga. Sejauh ini, dia paham dan ngerti karena tanpa diminta pun, kadang dia dapat sesuatu juga
“Dulu kecewa, sekarang mengerti”. Itulah mungkin makna dewasa ya, karena ketika kecil ya kita meminta PS hanya dari sudut pandang kita sebagai anak kecil saja. Orangtua pasti punya pertimbangan tertentu kenapa tidak mengabulkannya.
Kadang dari pengalaman itu, kita jadi belajar tidak semua hal dalam kendali. Setelah dewasa dan bahkan punya anak, kita pun merasa masa kecil penuh rengekan itu, malah penuh pembelajaran setelah dewasa… 🥰
Orang tua kakak kereen…mengerti kebutuhan anak dengan bijaksana. Betul banget tidak semua permintaan anak² harus dipenuhi. Ada seni mendidik juga dibalik penolakan orang tua terhadap keinginan sang anak.
Saya setuju dengan pernyataan ini, semua keinginan tidak harus terkabulkan karena disesuaikan banyak hal dan kondisi dalam hidup.
Bukan nostalgia soal barangnya, tapi soal nilai yang tumbuh diam-diam. Tentang belajar menunda keinginan, tentang pilihan orang tua yang ternyata penuh cinta, dan tentang kebersamaan yang waktu itu terasa biasa—tapi sekarang jadi harta.
Setujuu banget, dulu banyak banget hal yang diinginkan, tapi nggak kesampaian. Beberapa ada yang akhirnya jadi basi dan gak pernah terkabulkan–kalau dulu mungkin rasanya sedih, kalau sekarang kayak ya sudahlah hahaha–beberapa hal lagi ada yang terwujud di masa sekarang dan saya sering merenungkan hal tersebut. Mungkin ada hikmahnya mengapa saya baru dikasih dan diberikan sekarang dan sepakat dengan hal itu. Karena mungkin saat itu saya masih belum butuh dan itu memang itulah yang terbaik untuk saya. Dan beberapa dipertemukan karena inilah yang terbaik untuk saya sekarang.
Ortu kita hampir mirip. Saya dan adik pun tak dibelikan Sony PS karena sebelum brand tsb dilaunching, kami sudah punya konsol tipe lain dan cukup puas memainkannya. Tapi ya hanya boleh dipakai di akhir pekan atau liburan sekolah. Sisanya disimpan diatas lemari dan selain les kita harus belajar mandiri setiap hari