Saya Tidak Menghilang, Saya Hanya Memilih Tidak Selalu Terlihat
Di zaman ketika eksistensi sering diukur dari seberapa sering kita muncul di linimasa, jarang update di media sosial kadang dianggap seperti tanda menghilang. Tidak posting story, tidak upload foto, tidak ikut tren, seolah-olah hidup kita sedang berhenti.
Table Of Content
Padahal tidak.
Saya memang bukan tipe orang yang rutin update di media sosial seperti Instagram, Twitter, atau Facebook. Bahkan sejak akun Facebook saya sempat di-hack beberapa waktu lalu, cara saya memandang dunia digital berubah cukup banyak.
Tapi jarang muncul bukan berarti saya tidak ada. Saya hanya memilih untuk tidak selalu terlihat.
Tidak Semua Cerita Perlu Masuk Linimasa
Ada masa ketika kita merasa harus membagikan semuanya. Aktivitas harian, pencapaian kecil, opini spontan, bahkan suasana hati. Seakan-akan kalau tidak dibagikan, momen itu kurang sah.
Namun semakin ke sini, saya justru merasa tidak semua hal perlu diumumkan. Tidak semua proses perlu ditunjukkan. Tidak semua pencapaian perlu dipamerkan.
Ada ketenangan yang muncul ketika kita berhenti merasa wajib untuk selalu terlihat produktif, selalu terlihat bahagia, selalu terlihat sibuk.
Hidup tetap berjalan, meski tidak selalu diunggah.
Saat Akun Di-hack dan Perspektif yang Berubah
Kejadian akun Facebook saya di-hack menjadi salah satu titik refleksi. Rasanya bukan cuma soal kehilangan akses, tapi juga soal kesadaran bahwa ruang digital tidak sepenuhnya aman dan tidak sepenuhnya milik kita.
Kita menyimpan foto, percakapan, kenangan, bahkan bagian dari identitas diri di sana. Lalu dalam hitungan waktu, semuanya bisa terasa rapuh.
Sejak saat itu, saya menjadi lebih selektif. Bukan berarti antipati terhadap media sosial, tapi lebih sadar bahwa saya tidak harus meletakkan semua hal di ruang publik.
Ada bagian hidup yang lebih nyaman jika tetap berada di ruang yang lebih sunyi.
Saya Tetap Berkarya, Hanya Tidak Selalu di Sosial Media
Walaupun jarang update di media sosial, saya tetap menulis. Saya tetap berbagi. Hanya saja tempatnya berbeda.
Saya rutin memperbarui tulisan di blog pribadi seperti kisna.id dan fizh.net. Di sana, saya bisa menulis lebih panjang, lebih utuh, dan lebih jujur. Tidak dibatasi karakter. Tidak tergantung algoritma. Tidak sekadar mengejar respons cepat.
Menulis di blog terasa seperti berbicara dengan diri sendiri, tapi tetap membuka ruang bagi siapa pun yang ingin membaca. Ada kebebasan yang tidak selalu saya rasakan di media sosial.
Saya tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu ikut arus tren. Tidak perlu memikirkan apakah ini akan ramai atau tidak.
Saya hanya perlu menulis.
Tidak Sering Posting, Bukan Berarti Tidak Melakukan Apa-Apa
Kadang ada anggapan bahwa kalau seseorang jarang update berarti hidupnya biasa saja atau sedang tidak melakukan apa-apa. Padahal bisa jadi justru sedang fokus menjalani banyak hal.
Tidak semua proses perlu diumumkan. Tidak semua langkah harus didokumentasikan.
Saya mungkin tidak sering muncul di story atau timeline. Tapi saya tetap bekerja, tetap berpikir, tetap belajar, tetap menulis.
Bagi saya, tidak terlihat bukan masalah. Yang penting tetap berjalan.
Soal Cara, Bukan Soal Ada atau Tidak Ada
Setiap orang punya cara masing-masing dalam menggunakan media sosial. Ada yang aktif setiap hari dan itu sah-sah saja. Ada yang sesekali saja muncul, dan itu juga tidak salah.
Saya hanya memilih cara yang berbeda.
Kalau ingin tahu apa yang sedang saya pikirkan, mungkin bukan di story berdurasi beberapa detik. Tapi di tulisan yang saya susun pelan-pelan.
Karena pada akhirnya, saya tidak menghilang.
Saya hanya tidak selalu muncul di linimasa.




