Mengingat Ramadan Masa Kecil: Saat Buku Catatan Tarawih Lebih Penting dari Gadget
Ada satu hal yang sering bikin hati tiba-tiba hangat ketika bulan Ramadan datang: kenangan masa kecil. Bukan soal menu buka puasa yang mewah, bukan juga soal THR yang dulu selalu ditunggu-tunggu. Tapi soal hal-hal sederhana. Tentang buku kecil yang kita bawa ke masjid untuk mencatat isi khutbah atau ceramah saat tarawih, tentang suara sandal berserakan di pelataran, tentang tawa bersama teman sebaya tanpa beban hidup sedikit pun.
Table Of Content
- Buku Catatan Tarawih yang Penuh Coretan
- Masjid sebagai Tempat Bermain yang Paling Ramai
- Menunggu Bedug Magrib dengan Penuh Antusias
- Tanpa Beban Pekerjaan, Tanpa Target Dunia
- Catatan yang Mungkin Sudah Hilang, Tapi Kenangannya Tidak
- Ramadan Sekarang dan Upaya Menghidupkan Kembali Rasa Itu
- Penutup: Ramadan yang Selalu Mengajarkan Kesederhanaan
Ramadan dulu terasa berbeda. Atau mungkin, kitalah yang sudah berbeda.
Buku Catatan Tarawih yang Penuh Coretan
Dulu, setiap malam Ramadan, kita berangkat ke masjid dengan satu perlengkapan wajib: buku kecil dan pulpen. Biasanya buku itu bukan buku khusus. Kadang buku tulis bekas pelajaran sekolah, kadang buku sisa semester lalu yang masih ada halaman kosongnya.
Saat imam selesai salat Isya dan tarawih dimulai, kita ikut berdiri dengan saf yang mungkin belum terlalu lurus. Lalu saat ceramah dimulai, buku itu langsung dibuka. Kita mencatat judul materi, ayat yang disebutkan, bahkan kadang poin-poin nasihat ustaz.
Di banyak daerah di Indonesia, tradisi mencatat materi ceramah Ramadan memang cukup umum. Biasanya pihak sekolah atau TPA meminta bukti kehadiran dan ringkasan materi sebagai bagian dari pembinaan ibadah selama bulan puasa. Di masjid-masjid yang dikelola organisasi seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah, ceramah Ramadan juga menjadi bagian penting dari pendidikan keagamaan masyarakat.
Tapi bagi kita yang masih kecil waktu itu, motivasinya sederhana: supaya buku itu penuh dan bisa dikumpulkan. Ada rasa bangga ketika halaman demi halaman terisi tulisan tangan kita sendiri, walau kadang isinya setengah paham.
Sekarang kalau dipikir-pikir, bukan soal benar atau salahnya catatan itu. Tapi soal prosesnya. Soal kita yang belajar duduk tenang, belajar mendengarkan, belajar memahami.
Masjid sebagai Tempat Bermain yang Paling Ramai
Kalau ditanya apa yang paling ditunggu selain buka puasa, jawabannya jelas: main sebelum tarawih.
Pelataran masjid berubah jadi arena permainan. Ada yang main petak umpet, kejar-kejaran, kadang sampai dimarahi marbot karena terlalu ribut. Suara tawa bercampur dengan lantunan ayat Al-Qur’an dari dalam masjid.
Masjid bukan cuma tempat ibadah, juga jadi ruang sosial. Tempat kita membangun pertemanan, belajar berbagi, bahkan belajar bertanggung jawab, meski dalam bentuk paling sederhana.
Mungkin kita pernah ditegur karena lari-larian saat orang sedang salat sunnah. Pernah juga disuruh diam karena terlalu berisik saat ceramah berlangsung. Tapi dari situ kita belajar bahwa ada waktu bermain dan ada waktu tenang.
Ramadan masa kecil itu bukan soal kesempurnaan ibadah. Tapi soal proses tumbuh bersama suasana religius yang terasa alami.
Menunggu Bedug Magrib dengan Penuh Antusias
Sebelum era notifikasi digital dan live streaming azan, kita menunggu bedug atau suara azan dari pengeras suara masjid. Detik-detik menjelang magrib terasa lama sekali.
Kita duduk di depan televisi, menonton acara spesial Ramadan, atau membantu ibu menyiapkan takjil. Menu buka mungkin sederhana seperti gorengan, kolak, atau sirup merah yang selalu jadi favorit. Tapi rasanya selalu luar biasa.
Di banyak tempat, tradisi menunggu azan dengan beduk masih dilestarikan, terutama di masjid-masjid tua seperti Masjid Istiqlal yang menjadi ikon ibadah umat Islam di Indonesia. Suara beduk bukan sekadar tanda waktu berbuka, tapi simbol kebersamaan.
Dulu, kita tidak pernah memikirkan harga bahan pokok, tidak memikirkan pekerjaan, tidak memikirkan tagihan. Satu-satunya yang kita pikirkan adalah berapa menit lagi buka.
Sesederhana itu.
Tanpa Beban Pekerjaan, Tanpa Target Dunia
Ramadan masa kecil adalah Ramadan tanpa target karier, tanpa laporan bulanan, tanpa tekanan deadline. Kita puasa karena memang sedang belajar. Tarawih karena semua teman juga pergi. Tadarus karena diminta guru atau orang tua.
Sekarang, Ramadan sering kali datang bersamaan dengan kesibukan yang tidak bisa ditunda. Rapat tetap berjalan, pekerjaan tetap menumpuk, tanggung jawab keluarga semakin besar.
Dulu, selesai tarawih kita bisa langsung lanjut main atau jajan di depan masjid. Sekarang, selesai tarawih mungkin masih harus membuka laptop.
Perbedaannya bukan pada Ramadan-nya, tapi pada fase hidup kita.
Catatan yang Mungkin Sudah Hilang, Tapi Kenangannya Tidak
Entah di mana sekarang buku catatan tarawih itu. Mungkin sudah hilang, mungkin sudah dibuang saat bersih-bersih rumah bertahun-tahun lalu. Tapi isinya, atau setidaknya suasananya, masih tersimpan rapi dalam ingatan.
Tulisan tangan yang miring.
Tinta yang kadang belepotan.
Halaman yang terlipat.
Tanda tangan ustaz di akhir Ramadan sebagai bukti kita rajin hadir.
Semua itu bukan sekadar dokumentasi. Itu adalah bagian dari proses menjadi dewasa.
Ramadan Sekarang dan Upaya Menghidupkan Kembali Rasa Itu
Apakah mungkin kita merasakan kembali Ramadan seperti masa kecil dulu?
Mungkin tidak sepenuhnya sama. Kita sudah tumbuh, tanggung jawab sudah berbeda. Tapi ada hal-hal kecil yang bisa kita lakukan. Datang ke masjid lebih awal bukan karena kewajiban, tapi karena ingin. Mendengarkan ceramah dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menunggu selesai. Mengajak anak-anak kita atau keponakan merasakan suasana masjid yang hangat. Mengurangi distraksi gadget saat ibadah.
Mungkin kita tidak lagi membawa buku catatan kecil. Tapi kita bisa membawa niat yang sama, yaitu ingin belajar.
Penutup: Ramadan yang Selalu Mengajarkan Kesederhanaan
Ramadan masa kecil mengajarkan kita satu hal penting: kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Ia bisa hadir dari buku tulis sederhana, dari tawa bersama teman, dari suara beduk menjelang magrib.
Saat itu, kita belum memikirkan pekerjaan, belum memikirkan masa depan, belum memikirkan tekanan hidup. Kita hanya menjalani hari demi hari dengan penuh antusias.
Dan mungkin, di situlah letak keindahannya.
Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Tapi tentang kembali mengingat siapa diri kita sebelum dunia terasa begitu rumit.
Mengingat Ramadan masa kecil bukan berarti ingin kembali menjadi anak-anak. Tapi ingin menghidupkan kembali rasa tulus, sederhana, dan penuh syukur yang dulu begitu mudah kita rasakan.




